Sabtu, 22 Februari 2014

Suku di Indonesia

Minna, Ohayou~ ogenki desu-ka? fjwr mau share tentang suku Aceh nih. dari berbagai informasi telah fjwr rangkum di blog ini. semoga bisa membantu kalian yang sedang mencari makalah tentang suku Aceh.

Suku Aceh



Suku bangsa ini dalam kitab Sejarah Melayu disebut Lam Muri, Marcopolo yang singgah disana menyebutnya Lambri. Para penjelajah Portugis menyebutnya Akhir. Para penulis asing lain menyebutnya Achinese, Achehnese, Atchinese, Achin, Asji, A-tse, Atjeher. Dan orang aceh sendiri menyebut dirinya Ureung Aceh. Menurut sejarah yang ditulis dalam hikayat-hikayat, nenek moyang orang Aceh berasal dari Siam (Muangthai). Hal ini berdasarkan hikayat Aceh , bahwa raja-raja kerajaan Peureulak merupakan keturunan raja-raja Siam. Suku bangsa Aceh merupakan hasil pembaharuan beberapa bangsa pendatang dengan beberapa suku bangsa asli di sumatera, yaitu Arab, India, Parsi, Turki, Melayu, Minangkabau, Batak, Nias, Jawa dan lain-lain. Suku bangsa Aceh boleh berbangga karena daerah mereka adalah pintu gerbang pertama masuknya Islam ke Indonesia, yaitu sekitar abad ke 12-14 Masehi. Pada zaman dulu Aceh juga menjadi tempat persinggahan jamaah Haji Nusantara sewaktu pergi dan kembali berlayar dari Mekkah, sehingga dijuluki Serambi Mekkah. Pada Zaman dahulu masyarakat Aceh terbagi-bagi menjadi sejumlah kerajaan kecil, seperti Indrajaya, Indraputri, Indrapatra, Pasei, Benua, Daya, Peureulak, Idi, Pidie, Meulaboh, Linge, dan lain-lain. Seluruh kerajan tersebut akhirnya disatukan oleh Kesultanan Aceh Darusalam. Mereka juga terkenal sebagai bangsa yang gigih menentang kolonialisme Belanda dalam perang yang lama dan melelahkan. Suku Aceh adalah nama sebuah suku yang mendiami wilayah pesisir dan sebagian pedalaman Aceh.. Selain di wilayah provinsi Aceh sendiri, populasi suku Aceh juga terdapat di Kedah, Malaysia. Provinsi Aceh terdiri dari 9 suku asli, yaitu Aceh (mayoritas), Tamiang (Kabupaten Aceh Timur Bagian Timur), Alas (Kabupaten Aceh Tenggara), Aneuk Jamie (Aceh Selatan), Naeuk Laot, Semeulu, dan Sinabang.Penduduk aceh merupakan keturunan berbagai suku, kaum, dan bangsa. Leluhur orang aceh berasal dari semennajung Malaysia, Cham, Cohcin Ciana, dan Kamboja.
Disamping itu banyak pula keturunan bangsa asing di tanah Aceh, diantaranya:
1. Bangsa Arab                 3. Tiongkok                      5. Bangsa portugis
2. Bangsa India                 4. Bangsa Persia
Suku Aceh memiliki sejarah panjang tentang kegemilangan sebuah kerajaan Islam hingga perjuangan atas penaklukan kolonial Hindia Belanda.Banyak dari budaya Aceh yang menyerap budaya Hindu India, dimana kosakata bahasa Aceh banyak yang berbahasa Sanskerta. Suku Aceh merupakan suku di Indonesia yang pertama memeluk agama Islam dan mendirikan kerajaan Islam. Masyarakat Aceh mayoritas bekerja sebagai petani, pekerja tambang, dan nelayan.


1. Kepercayaan
Mayoritas penduduk di Provinsi Aceh memeluk agama Islam yang mencapai 97,6%. Sedangkan agma lain seperti kristen 1,7%, Hindu 0,08% dan Budha 0,55%. Banyak ahli sejarah baik dalam maupun luar negeri yang berpendapat bahwa agama Islam di Indonesia pertama tersyiar yaitu di Aceh. Keterangan Marco Polo yang singgah di Perlak pada tahun 1292 menyatakan bahwa negeri itu sudah menganut agama Islam. Begitu juga Samudera-Pasai, berdasarkan makam yang diketemukan di bekas kerajaan tersebut dan berita sumber-sumber yang ada seperti yang sudah kita uraikan bahwa kerajaan ini sudah menjadi kerajaan Islam sekitar 1270. Tentang sejarah perkembangan Islam di daerah Aceh pada zaman-zaman permulaan itu petunjuk yang ada selain yang telah kita sebutkan pada bagian-bagian yang lalu ada pada naskah-naskah yang berasal dari dalam negeri sendiri seperti Kitab Sejarah Melayu, Hikayat Raja-Raja Pasai. Menurut kedua kitab tersebut, seorang mubaligh yang bernama Syekh Ismail telah datang dari Mekkah sengaja menuju samudera untuk mengislamkan penduduk di sana. Sesudah menyebarkan agama Islam seperlunya, Svekh Ismail pun pulang kembali ke Mekkah. Perlu juga disebutkan di sini bahwa dalam kedua kitab ini disebutkan pula negeri-negeri lain di Aceh yang turut diislamkan, antara lain: Perlak, Lamuri, Barus dan lain-lain. Berdasarkan keterangan kedua sumber itu dapatlah diperkirakan bahwa sebagian tempat-tempat di Aceh, terutama tempat-tempat di tepi pantai telah memeluk agama Islam. Berita-berita Cina ada juga yang menyebutkan bahwa raja dan seluruh rakyat negeri Aru yang di kemudian hari termasuk bagian dari Aceh adalah penganut-penganut agama Islam. Demikian pula Malaka yang pada awal abad XV terus menjadi ramai, akhirnya menjadi kerajaan Islam pula, bahkan setelah itu menjadi pusat syi'ar Islam ke seluruh Asia Tenggara dan melalui Malaka pula agama Islam kemudian masuk dan berkembang ke seluruh Indonesia sehingga pada awal abad ke-15 hampir di setiap tempat di kepulauan Indonesia sudah terbentuk masyarakat-masyarakat Islam. Islam yang masuk ke Aceh khususnya dan Indonesia umumnya pada mulanya mengikuti jalan-jalan dan kota-kota dagang di pantai, kemudian barulah menyebar ke pedalaman. Para pedagang dan mubaligh telah memegang peranan penting dalam penyebaran agama Islam. Orang Aceh adalah penganut agama Islam yang taat. Meskipun demikian, di antara mereka ada yang masih menjalankan praktek kepercayaan animisme dan dinamisme. Ada orang–orang tertentu yang biasa mempraktekkan guna-guna atau ilmu gaib dan kelompok masyarakat yang menjalankan beberapa uapacara tradisional yang bukan berasal dari agama Islam, seperti kenduri blang dan kenduri laut. Kenduri blang adalah upacara kesuburan yang biasa dilakukan setiap tahun oleh masyarakat petani Aceh dan Gayo. Sedangkan kenduri laut atau upacara turun ke laut diadakan oleh para nelayan Aceh dalam rangka meminta restu kepad Penguas Laut. Upacara ini masih dapat ditemukan pada masyarakat desa Ujong Pusong dan Ujong Blang di kabupaten Aceh Barat. Biasanya seekor kerbau, kepalanya dibuang ke laut, sedangkan dagingnya dimasak untuk kenduri setelah upacara selesai. Orang Aceh menganggap dirinya identik dengan Islam. Oleh sebab itu dalam kehidupan mereka hal-hal yang ada sangkut pautnya dengan agama merupakan suatu hal yang paling sensitive, sehingga bagi masyarakat Aceh pada umumnya, yang paling menyinggung perasaan atau dianggap sebagi penghinaan adalah kalau seseorang disebut” kafir”. Kendati yang bersangkutan belum tentu taat beribadah atau bahkan tidak bertingkah laku sebagai seorang muslim, namun kalau disebut kafir pasti akan berakibat panjang



2. Bahasa
Diantara bahasa-bahasa daerah yang terdapat di provinsi NAD, bahasa Aceh merupakan bahasa daerah terbesar dan yang paling banyak penuturnya, yakni sekitar 70 % dari total penduduk provinsi NAD. Penutur bahasa Aceh tersebar di wilayah pantai Timur dan Barat provinsi NAD. Penutur asli bahasa Aceh adalah mereka yang mendiami kabupaten Aceh Besar, kota Banda Aceh, kabupaten Pidie, kabupaten Aceh Jeumpa, kabupaten Aceh Utara, kabupaten Aceh Timur, kabupaten Aceh Barat dan kota Sabang. Penutur bahasa Aceh juga terdapat di beberapa wilayah dalam kabupaten Aceh Selatan, terutama di wilayah Kuala Batee, Blang Pidie, Manggeng, Sawang, Tangan-tangan, Meukek, Trumon dan Bakongan. Bahkan di kabupaten Aceh Tengah, Aceh Tenggara dan Simeulue, kita dapati juga sebahagian kecil masyarakatnya yang berbahasa Aceh. Selain itu, di luar provinsi NAD, yaitu di daerah-daerah perantauan, masih ada juga kelompok-kelompok masyarakat Aceh yang tetap mempertahankan bahasa Aceh sebagai bahasa ibu mereka. Bahasa Aceh termasuk dalam kelompok bahasa Chamic, cabang dari rumpun bahasa Melayu-Polinesia, cabang dari rumpun bahasa Austronesia. Bahasa-bahasa yang memiliki kekerabatan terdekat dengan bahasa Aceh adalah bahasa Cham, Roglai, Jarai, Rade dan 6 bahasa lainnya dalam rumpun bahasa Chamic. Bahasa-bahasa lainnya yang juga berkerabat dengan bahasa Aceh adalah bahasa Melayu dan bahasa Minangkabau.



3. Kesenian

Ø Tarian:

1. Tari Saman

Tari Saman diciptakan dan dikembangkan oleh seorang tokoh islam bernama Syeh Saman ,beliau menciptakan syairnya dengan menggunakan bahasa arab dan bahasa aceh dengan iringan gerakan –gerakan tangan dan syair yang dilagukan membuat seuasana menjadi gembira, gerakan tepukan dada,tepukan diatas lutut, mengangkat tangan secara bergantian dengan gerakan dan kecepatan yang serasi menjadi ceri khasnya.

2. Tari Laweut

Laweut berasal dari kata Seulawet , sanjungan pada Nabi Muhammad S.A.W tari ini di persembahkan oleh delapan orang wanita yang disebut juga seudati iring. Tari ini di pergunakan untuk menyampaikan pesan-pesan dalam keagamaan pendidikan dan pembangunan.

3. Tari Tarek Pukat

Tari ini merupakan tarian yang diangkat dari kehidupan nelayan pesisir aceh yaitu membuat jarring “pukat” dan menangkap ikan dengan jaring ditengah laut. Suasana menarik pukat dengan harapan mendapat ikan yang banyak dinyatakan dengan semangat kerja keras da riang gembira yang sekali-kali terdengar teriakan senang pawang laut

4. Tari Cangklak

Tari mengemalisasikan perempuan-perempuan cantik gemulai, energik dan sedikit genit dengan berbagai aksesoris yang dipakai dalam mengelilingi lekuk tubuh anggunnya, serta pelengkap busana yang senantiasa digunakan dan indetik dengan perempuan seperti payung, kipas, sapu tangan, perpaduan gerak dan tarian yang laku di aceh dengan tarian khas melayu dari daerah timur aceh.

5. Rapai Daboh


Rapai Daboh yaitu suatu permainan ketangkasan atau kekebalan. Permainan Rapai Daboh terdiri dari seorang syekh yang bergelar “Khalifah”, beberapa orang penabuh rebana (rapai), dan beberapa pemain rencong atau senjata tajam lainnya, dimana saat mereka sedang menabuh rebana memukul rapainya sambil bernyanyi dengan lagu-lagu tertentu terus menikam-nikam anggota badan dengan sehebat-hebatnya, kadang-kadang rencongnya menjadi bengkok, yang semuanya berada dibawah pimpinan/pengawasan khalifah. Apa sebab tubuh mereka tidak dimakan senjata, hal ini menurut mereka oleh karena suatu keyakinan bahwa yang berkuasa hanya Khalik (Tuhan) sedangkan makhluk sama-sama tidak berkuasa; jadi besi makhluk dan manusia pun makhluk. Pada waktu para penabuh rapai sedang memukul rebana sehebat-hebatnya, maka para pemain rencong memusatkan seluruh pikirannya pada keyakinan diatas, sedikit pun tidak boleh bergoyang, dan kalau goyang pastilah senjata akan makan tubuh mereka.

6. Tari Seudati

Seudati adalah perpaduan antara seni suara dan seni tari. Seni Seudati adalah jenis kesenian yang diciptakan setelah berdiri masyarakat islam Aceh yang berfungsi sebagai dakwah dan hiburan. Seudati juga bernama Saman yang berasal kata dari bahasa Arab yang berarti delapan. Dinamakan saman karena para pemainnya terdiri dari delapan orang yaitu Syekh dan para pembantunya berpakaian seragam, yaitu celana pantalon hitam atau putih, baju kaos putih berlengan panjang, di kepala para penari memakai tangkulok.

7. Tari Rapai Geleng

Rapai adalah jenis tamborin yang biasanya dipakai untuk mengiringi sebuah lagu atau tarian. Permainan Rapai telah dikembangkan dan diiringi dengan lagu-lagu dan berbagai macam lenggak-lenggok yang indah. Ini merupakan dobrakan penampilan sebuah tarian baru yang disebut “Rapai Geleng”. Tarian ini dimainkan oleh 11 sampai 12 orang penari dan setiap mereka memainkan Rapai (tamborin kecil). Sambil bermain Rapai dan menyanyikan lagu, mereka melakukan berbagai gerakan tubuh yaitu tangan, kepala, dan lain-lain. Gerakan para penari hampir sama dengan tarian Saman tetapi menggunakan Rapai. Tarian ini juga sangat dinikmati dan menyenangkan.

8. Tari Meuseukat


Tarian Meuseukat adalah tarian yang sangat pupuler di Aceh yang berasal dari Kab. Aceh Selatan. Tarian ini dimainkan oleh 10 atau 12 penari dan 2 orang penyanyi. Khusus untuk wanita mengambil posisi dengan cara duduk/berlutut dalam satu barisan dan membuat gerakan tubuh dengan tangan dan kepala. Nyanyian yang berisi pujian atau doa yang dimulai dengan gerakan lambat sampai dengan gerakan cepat.

9. Tari Ranub Lampuan

Tari Ranub Lampuan sangat terkenal di Aceh. Tari ini biasanya dimainkan untuk menyambut tamu terhormat dan pejabat-pejabat yang berkunjung ke Aceh. Tari ini juga di tampilkan pada acara-acara khusus, seperti para acara Preh linto, Tueng Dara Baro. Tarian ini dimainkan oleh tujuh orang penari wanita dan diiringi dengan instrumen musik tradisional Seurunee Kalee. Penari ditangannya memegang Cerana atau Puan yang yang didalamnya berisi sirih (ranub) yang akan diberikan kepada tamu-tamu sebagai tanda kemuliaan bagi tamu-tamunya. Tari Ranub Lampuan gubahan dari Tarian Aceh.

10. Tari Likok Pulo

Tari Likok Pulo dewasa ini sudah menjadi salah satu tari wajib bagi murid sekolah dalam Kota Banda Aceh sebagai mata pelajaran kesenian muatan lokal. Karena pada akhir tahun l980an nasib tarian ini hampir punah dan kembali diperkenalkan pada PKA Pkan Kebudayaan AcehIII tahun l988 hingga sudah berkembang dan populer di kalangan masyarakat. Asal mula tarian ini berkembang di kawasan Pulo Besar Selatan dalam wilayah gugusan Pulo Aceh Kabupaten Aceh Besar, sekitar 30 mil dari dararatan Kota Banda Aceh. Maka tarian ini juga dengan sebutan Likok Pulo Aceh. Tarian ini sebagai media pengembangan dakwah Islam dimasa era kesultanan Aceh diciptakan oleh Ulama pendatang dari Arab yang menetap di desa Ulee Paya dibawakan oleh 12 orang penari pria sambil duduk rapat berlutut bahu membahu, dengan posisi sejajar. Di desa Ulee Paya dahulu dipertunjukan di tepi pantai atas pasir sebagai pentasnya dan hanya digelari sehelai tikar daun lontar atau pandan serta dibawakan pada malam hari sebagai hiburan rakyat sambil berdakwah. Biasanya tarian ini mulai dipertunjukan puluk 21.00 WIB sampai menjelang subuh. Gerak tari Likok Pulo komposisinya dimulai dengan gerakan salam anggukan kepala dan tangan yang diselangi gerakan pinggul. Ritme tarian saling membentang dan seling ke kiri dan ke kanan sambil melantunkan syair-syair pujian kepada Sang Khalik yang diiringi dengan musik Rapai dan vokalis nyanyian syair Aceh.




Ø Seni Musik

Rapai geleng merupakan seni musik yang dilakukan oleh tiga belas laki-laki/perempuan yang duduk berbanjar, seperti duduk diantara dua sujud ketika melaksanakan shalat. Masing-masing memegang alat tabuh sambil bernyanyi bersama. Antara musik dan gerak yang dimainkan bersenyawa. Awalnya lambat, sedang, setelah beberapa detik berubah cepat diiringi dengan gerakan kepala yang digelengkan ke kiri dan kekanan. Mereka menepuk-nepuk tangan dan dada, juga menepuk tangan dan paha. Ada yang bertindak sebagai pemain biasa, syech dan aneuk dhiek.
Walaupun musik tradisional masih tetap dipelihara, dikembangkan dan dipagelarkan oleh pecinta dan pendukung-pendukungnya sampai dewasa ini namun tidak mungkin akibat adanya unsur-unsur luar/kebudayaan luar, nilai-nilai budaya Aceh akan menjadi suram ataupun mungkin menjauh / menghilang dalam masyarkat. Adapun jenis-jenis Alat musik di NAD antara lain:
1. Arbab                                                 6. Tambo
2. Bangsi Alas                                         7. Takatok Trieng
3. Serune kalee (Serunai)                         8. Beareguh
4. Rapai                                                   9. Canang
5. Geundrang                                           10. Celempong



Ø Seni Sastra
Dalam seni sastra, provinsi ini memiliki 80 cerita rakyat yang terdapat dalam Bahasa Aceh, Bahasa Gayo, Aneuk jamee, Tamiang dan Samelue. Seni sastra yang terkenal adalah:
1. Bustanussalatin                                    4. Legenda Amat Rhah manyang
2. Hikayat Prang Sabi                             5. Legenda Putroe Nen
3. Hikayat Malem Diwa                          6. Legenda Magasang danMagaseueng



Ø Seni Hias
Seni hias Aceh umumnya mamakai bentuk-bentuk ilmu ukur, tumbuh- tumbuhan atau ruang angkasa (kosmos). Ragam Pilin berganda terdiri dari susunan huruf S berdasarkan ilmu ukur. Seni ukir dan seni tenun Aceh menggunakan bentuk tumbuhan.

Ø Seni Pahat

Seni pahat yang ada pada suku aceh adalah memahat hiasan pada rumah adat atau nisan. Seni pahat yang diaplikasikan pada rumah adat menunjukkan kepemilikan dan status sosial pemiliknya. Sedangkan seni pahat yang diaplikasikan pada nisan menunjukkan status sosial yang dikuburkan, dan juga memberikan informasi nama dan tahun serta tanggal wafat dari tokoh yang dikuburkan.

Ø Seni Lukis : Kaligrafi Arab
Seni kaligrafi Arab merupikan salah satu kesenian yang ada dalam suku aceh. Melukis kaligrafi ini biasanya dilukis di atas kanvas yang bertujuan sebagai hiasan dinding di dalam rumah atau mesjid dengan melukiskan Asmaul Husna dan sebagainya. Kesenian ini banyak terlihat pada berbagai ukiran mesjid, rumah adat, alat upacara, perhiasan, dan sebagainya.



4. Rumah Tradisional



Rumah tradisonal suku Aceh dinamakan Rumoh Aceh. Rumah adat ini bertipe rumah panggung dengan 3 bagian utama dan 1 bagian tambahan. Tiga bagian utama dari rumah Aceh yaitu seuramoë keuë (serambi depan), seuramoë teungoh (serambi tengah) dan seuramoë likôt (serambi belakang). Sedangkan 1 bagian tambahannya yaitu rumoh dapu (rumah dapur).
Rumah tradisional lainya yaitu Rumoh cut Meutia rumah ini mempunyai 16 tiang sanggah, berdinding kayu, berukir khas aceh dan mempunyai keunikan pintu masuk terletak dilantai. Fungsi pintu ini agar orang sulit masuk kerumah tersebut. Konon hal ini berfungsi untuk keamanan.




5. Senjata Tradisional

Rencong adalah senjata tradisional yang dipakai oleh hampir setiap penduduk Aceh, bentuknya menyerupai huruf L. Wilahan rencong terbuat dari besi dan biasanya bertuliskan ayat-ayat Al-Qur'an. Rencong termasuk dalam kategori dagger atau belati (bukan pisau ataupun pedang). Selain rencong, suku Aceh juga menggunakan, reuduh, keumeurah paneuk, peudang, dan tameung. Senjata-senjata tersebut umumnya dibuat sendiri.



6. Sistem Perkawinan

Dalam sistem pernikahan tampaknya terdapat kombinasi antara budaya Minangkabau dan Aceh. Garis keturunan diperhitungkan berdasarkan prinsip bilateral, sedangkan adat menetap sesudah nikah adalah uxorilikal. Kerabat pihak ayah mempunyai kedudukan yang kuat dalam hal pewarisan dan perwalian, sedangkan ninik mamak berasal dari kerabat pihak ibu. Kelompok kekerabatan yang terkecil adalah keluarga inti yang disebut rumoh tanggo. Ayah berperan sebagai kepala keluarga yang mempunyai kewajiban memenuhi kebutuhan keluarganya.Tanggung jawab seorang ibu yang utama adalah mengasuh anak dan mengatur rumah tangga.



7. Pakaian Adat


Pakaian adat yang dikenakan pria Aceh adalah baju jas dengan leher tertutup, celana panjang yang disebut cekak musang dan kain sarung yang disebutpendua. Kopiah yang dipakainya disebut makutup dan sebilah rencong terselip di depan perut. Wanitanya memakai baju sampai ke pinggul, celana panjang cekak musang serta kain sarung sampai ke lutut. Perhiasan yang dipakai berupa kalung yang disebutkula,pending, gelang tangan dan gelang kaki. Pakaian ini dipergunakan untuk keperluan upacara pernikahan.



8. Sistem Kekerabatan
Dalam sistem keluarga, bentuk kekerabatan yang terpenting adalah keluarga inti dengan prinsip keturunan bilateral. Adat menetap sesudah menikah bersifat uxorilikal. Sedangkan anak merupakan tanggung jawab ayah sepenuhnya.




9. Bentuk-bentuk upacara.

1. Upacara Perkawinan



Perkawinan adalah sesuatu yang sangat sakral di dalam budaya masyarakat Aceh sebab hal ini berhubungan dengan nilai-nilai keagamaan. Perkawinan mempunyai nuansa tersendiri dan sangat dihormati oleh masyarakat. Upacara perkawinan pada masyarakat Aceh merupakan serangkaian aktivitas yang terdiri dari beberapa tahap, mulai dari pemilihan jodoh (suami/istri), pertunangan dan hingga upacara peresmian perkawinan.Suatu kebiasaan bagi masyarakat Aceh, sebelum pesta perkawinan dilangsungkan, terlebih dahulu tiga hari tiga malam diadakan upacara meugaca atau boh gaca (berinai) bagi pengantin laki-laki dan pengantin perempuan di rumahnya masing-masing. Tampak kedua belah tangan dan kaki pengantin dihiasi dengan inai. Selama upacara meugaca/boh gaca pada malamnya diadakan malam pertunjukan kesenian seperti tari rabana, hikayat, pho, silat, dan meuhaba atau kaba (cerita dongeng). Pada puncak acara peresmian perkawinan, maka diadakan acara pernikahan. Acara ini dilakukan oleh kadli yang telah mendapat wakilah (kuasa) dari ayah dara baro. Qadli didampingi oleh dua orang saksi di samping majelis lainnya yang dianggap juga sebagai saksi. Kemudian jinamai (mahar) diperlihatkan kepada majelis dan selanjutnya kadli membaca do’a (khutbah) nikah serta lafadz akad nikah, dengan fasih yang diikuti oleh linto baro dengan fasih pula. Apabila lafadz sudah dianggap sempurna, kadli mengangguk minta persetujuan kedua saksi tadi. Bila saksi belum menyetujui, maka linto harus mengulangi lagi lafadz nikah tersebut dengan sempurna. Setelah selesai acara nikah, linto baro dibimbing ke pelaminan persandingan, di mana dara baro telah terlebih dahulu duduk menunggu. Sementara itu dara baro bangkit dari pelaminan untuk menyembah suaminya. Penyembahan suami ini disebut dengan seumah teuot linto. Setelah dara baro seumah teuot linto, maka linto baro memberikan sejumlah uang kepada dara baro yang disebut dengan pengseumemah (uang sembah).Selama acara persandingan ini, kedua mempelai dibimbing oleh seorang nek peungajo. Biasanya yang menjadi peungajo adalah seorang wanita tua. Kemudian kedua mempelai itu diberikan makan dalam sebuah pingan meututop (piring adat) yang indah dan besar bentuknya. Selanjutnya, kedua mempelai tadi di peusunteng (disuntingi) oleh sanak keluarga kedua belah pihak yang kemudian diikuti oleh para jiran (tetangga). Keluarga pihak linto baro menyuntingi (peusijuk/menepung tawari) dara baro dan keluarga pihak dara baro menyuntingi pula linto baro. Tiap-tiap orang yang menyuntingi selain menepung tawari dan melekatkan pulut kuning di telinga temanten, juga memberikan sejumlah uang yang disebut teumentuk. Acara peusunteng ini lazimnya didahului oleh ibu linto baro, yang kemudian disusul oleh orang lain secara bergantian.Apabila acara peusunteng sudah selesai, maka rombongan linto baro minta ijin untuk pulang ke rumahnya. Linto baro turut pula dibawa pulang. Ada kalanya pula linto baro tidak dibawa pulang, ia tidur di rumah dara baro, tetapi pada pagi-pagi benar linto baro harus sudah meninggalkan rumah dara baro. Karena malu menurut adat, bila seorang linto baro masih di rumah dara baro sampai siang.

2. Upacara Peutron Tanoh (Turun Tanah)

Upacara turun tanah (peutron tanoh) diadakan setelah bayi berumur tujuh hari atau 2 tahun. Dalam jangka waktu yang cukup untuk mempersiapkannya, lebih-lebih anak pertama yang sering diadakan upacara cukup besar, dengan memotong kerbau atau lembu. Pada upacara ini bayi digendong oleh seseorang yang terpandang, baik perangai dan budi pekertinya. Orang yang menggendong memakai pakaian yang bagus-bagus. Waktu turun dari tangga ditundungi dengan sehelai kain yang dipegang oleh empat orang pada setiap sisi kain itu. Di atas kain tersebut dibelah kelapa agar bayi tadi tidak takut terhadap suara petir. Belahan kelapa dilempar dan sebelah lagi dilempar kepada wali karong. Salah seorang keluarga dengan bergegas menyapu tanah dan yang lain menampi beras bila bayi itu perempuan, sedangkan bila bayi itu laki-laki salah seorang keluarga tersebut mencangkul tanah, mencencang batang pisang atau batang tebu. Kemudian sejenak bayi itu dijejakkan di atas tanah dan akhirnya dibawa berkeliling rumah atau mesjid sampai bayi itu dibawa pulang kembali ke rumah.

3. Tradisi Makan dan Minum

Makanan pokok masyarakat Aceh adalah nasi. Perbedaan yang cukup menyolok di dalam tradisi makan dan minum masyarakat Aceh dengan masyarakat lain di Indonesia adalah pada lauk-pauknya. Lauk-pauk yang biasa dimakan oleh masyarakat Aceh sangat spesifik dan bercitra rasa seperti masakan India. Lauk-pauk utama masyarakat Aceh dapat berupa ikan, daging (kambing/sapi). Di antara makanan khas Aceh adalah gulai kambing (Kari Kambing), sie reboih, keumamah, eungkot paya (ikan Paya), mie Aceh, dan Martabak. Selain itu, juga ada nasi gurih yang biasa dimakan pada pagi hari. Sedangkan dalam tradisi minum pada masyarakat Aceh adalah kopi. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila pada pagi hari kita melihat warung-warung di Aceh penuh sesak orang yang sedang menikmati makan pagi dengan nasi gurih, ketan/pulut, ditemani secangkir kopi atau pada siang hari sambil bercengkrama dengan teman sejawat makan nasi dengan kari kambing, dan sebagainya.

10. Tata cara pemakaman
Upacara kematian adalah seperangkat upacara yang dilakukan mulai orang meninggal hingga proses penguburan. Kegiatan-kegiatan itu mulai dari meninggal, membuat keranda, membuat kafan, memandikan mayat, dan penguburan mayat di kuburan.

Suatu kebiasaan pada masyarakat Aceh apabila seseorang sedang mengalami sakit parah maka semua kerabat diberitahukan supaya dapat menjenguknya sebelum ia meninggal. Apabila tidak diberitahukan akan terjadi ketidakharmonisan dalam hubungan keluarga, karena seakan-akan oleh keluarga yang mengalami musibah itu tidak menghiraukan kerabatnya. Apabila orang sakit parah itu sedang menghadapi maut (sakratul maut), ahli famili yang duduk di sekelilingnya geu peu entat (mengantarkan) dengan membisikkan ucapan Lailahaillallah pada telinga orang yang sedang menghadapi maut. Hal itu dilakukan karena masyarakat Aceh menganggap bahwa kalimat itu didengar dan diikuti oleh orang yang sedang menghadapi mati walaupun tidak kedengaran. Apabila seseorang yang mati dengan mengucapkan kalimat Lailahaillallah maka ia mati sebagai seorang muslim dan masuk surga, sehingga geu peu entat itu merupakan keharusan bagi masyarakat Aceh. Selain dengan kalimat Lailahaillallah, kadang kala juga dilakukan dengan dengan pembacaan Surat Yasin dalam Alquran. Hal itu dimaksudkan apabila yang sakit itu belum ajal maka akan disegerakan sembuhnya dan sebaliknya apabila yang sakit itu sudah ajalnya maka akan disegerakan dan meninggal dengan selamat. Setelah seseorang diyakini meninggal, maka mayat tersebut diletakkan di atas suatu tempat dan ditutup dengan kain panjang. Selanjutnya, salah seorang dari keluarganya datang memberitahukan yang pertama-tama kepada teungku imam yang ada di kampung kemudian kepada semua kerabat baik yang dekat maupun yang jauh. Pemberiatuan kepada masyarakat gampong dilakukan oleh teungku meunasah atau orang lain dengan memukul tambur sesuai dengan irama dan jumlah pukulan menurut kebiasaan. Bunyi tambur untuk orang yang meninggal biasanya pukulan tambur sampai 7 ronde, yaitu ronde pertama sebanyak tiga kali pukul, kemudian berhenti, kemudian dipukul lagi tiga kali sampai dengan pukulan yang ketujuh. Apabila masyarakat gampong mendengar yang demikian, mereka berbondong-bondong datang ke rumah di tempat orang yang mati tersebut. Setelah mereka berkumpul, seakan-akan aktivitas diambil alih oleh teungku meunasah dan geucik. Tuan rumah hanya bertanggung jawab di bidang material yang dibutuhkan dalam kegiatan itu. Pada saat itulah teungku meunasah dan geucik mendistribusikan pekerjaan kepada warga gampong. Anak-anak muda dikerahkan menggali kuburan, anak-anak perempuan dikerahkan mengangkut air mandi mayat, orang yang lebih tua dikerahkan untuk membuat keureunda (peti mayat) dan kafan.Persiapan-persiapan yang dibutuhkan terutama kain kafan, papan keureunda, kikisan kayu cendana, kemeyan, kapur barus, minyak wangi, dan jenis bunga-bungaan yang harum. Hal itu dimaksudkan supaya mayat tersebut menjadi wangi dan harum, yang akan menghadap sang penciptanya. Acara memandikan mayat, buat keureunda, dan kafan sering dilakukan serentak dengan cara pembagian tugas pada warga gampong. Masyarakat Aceh berkeyakinan bahwa mempercepat penguburan mayat adalah lebih utama.

· Mandi Jenazah
Acara mandi mayat dilakukan di rumah orang yang meninggal, walaupun berjauhan dengan sumur atau sungai untuk mengambil air. Kalau acara mandi tidak dilaksanakan di rumah, suatu keayiban pada kerabat yang ditinggalkan, seakan-akan tidak begitu perhatian terhadap orang yang meninggal. Bagi rumah yang berjauhan dengan sungai atau sumur maka dikerahkan tenaga anak-anak muda untuk mengangkut air, biasanya pekerjaan ini dilakukan oleh anak-anak perempuan. Akan tetapi rumah-rumah di gampong pada umumnya mempunyai sumur dekat rumah. Setelah persiapan-persiapan mandi disiapkan, maka teungku membaca doa sambil meremas-remas air ramuan yang disebut dengan air sembilan. Kemudian air diambil dengan baskom, lalu dituangkan oleh teungku kepada mayat dengan sangat perlahan-lahan, agar tubuh mayat tidak terasa sakit atau terkejut. Sebagian masyarakat Aceh beranggapan walaupun mayat sudah meninggal tetapi ia masih merasa, selain itu juga diyakini bahwa menyakiti orang yang sudah meninggal sama dengan menyakiti ketika ia masih hidupAnggota yang memandikan mayat terdiri atas kaum kerabat ditambah dengan teungku. Apabila yang meninggal itu seorang perempuan maka yang memandikan mayat itu semuanya perempuan. Setelah mayat dimandikan dengan air biasa, kemudian teungku mengambil air sembilan yang berisi ramuan-ramuan terutama jeruk purut dan lain-lain ramuan yang wangi lalu disiram pada tubuh mayat sebanyak sembilan kali. Oleh sebab itu disebut dengan air sembilan. Setelah itu mayat kembali disiram dengan air biasa.Apabila kematian terjadi pada malam hari, dengan sendirinya orang berjaga sampai pagi hari, dalam hal itu yang meninggal itu diberi senjata untuk melawan jin-jin jahat berupa sebuah pisau kecil diletakkan di bawah bantalnya, dan orang-orang yang berjaga di dekatnya, sementara sebuah lampu dinyalakan di dekatnya. Penjagaan itu juga dimaksudkan untuk mencegah jangan sampai mayat disentuh oleh seekor kucing, sebagian masyarakat menganggap, apabila mayat tersentuh kucing, roh yang mati akan menjelma menjadi hantu.

· Kafan
Apabila mayat sudah dimadikan, kafan pun sudah disiapkan. Bagi orang yang mampu kain kafan itu sampai tujuh lapisan, dan bagi yang biasa hanya sampai tiga lapis saja. Kafan itu terdiri atas baju, celana, dan kain pinggang, kemudian ditambah dengan tiga buah bantal yang diisi dengan daun belimbing. Bantal itu diletakkan di kepala, pinggang dan di bagian lutut. Bantal itu berfungsi sebagai penahan agar mayat dalam keureunda tidak goyang atau terbalik. Bentuk atau model kafan yang dipotong itu, tidak dijahit seperti menjahit celana biasa, melainkan dengan cara membentuk saja menyerupai celana, baju dan kain pinggang dengan cara memotong dengan gunting pada ujungnya, kemudian dikoyak dengan tangan. Pengoyakan dengan tangan itu memang suatu kebiasaan membuat kafan bukan berarti tidak dapat dipotong dengan gunting. Setelah kafan dikenakan pada tubuh mayat, lalu diikat dengan tali. Tali pengikat itu khusus dirobek dari pinggiran kain kafan tadi, bukan dengan tali lain.

· Salat Jenazah
Setelah mayat selesai dibungkus dengan kain kafan, seterusnya mayat itu dimasukkan ke dalam keureunda (peti mayat). Keureunda yang telah berisi mayat, kemudian dibungkus dengan kain panjang. Setelah peti mayat itu dibungkus dengan kain, lalu peti mayat itu diusung bersama-sama ke meunasah atau mesjid untuk disalatkan, apabila jauh dengan meunasah atau mesjid, akan disalatkan di rumah. Anggota pengusung itu biasanya oleh kaum kerabat dari orang yang meninggal. Selain itu, dibantu pula oleh warga gampong, sedangkan yang lainnya mengikuti dari belakang. Setelah sampai ke mesjid atau ke meunasah, mayat diletakkan di muka sekali dengan posisi kepala mayat ke sebelah utara dan kaki ke sebelah selatan. Acara shalat jenazah dipimpin oleh teungku imeum dan diikuti oleh para jamaah lainnya. Kadang-kadang oleh teungku menanyakan terlebih dahulu pada keluarga yang meninggal, kalau ada di antara anggota keluarga itu untuk menjadi imam. Setelah shalat mayat selesai adakalanya memberi sedekah kepada orang yang ikut shalat mayat dan terkadang hanya kepada teungku saja.

· Penguburan
Setelah jenazah siap untuk dikuburkan, maka pelaksanaannya harus segera dilakukan. Mayat diusung bersama-sama ke kuburan. Orang-orang yang mengusung terdiri atas keluarga yang meninggal, biasanya mengusung bagian kepala dan kaki, kemudian dibantu oleh para warga gampong. Pengunjung yang lain mengikuti dari belakang hingga ke kuburan. Di kuburan telah ditunggu oleh mereka yang menggali kuburan tadi. Mereka itu terdiri atas anak-anak muda gampong, yang dipinpin oleh seorang tua. Setelah sampai ke lokasi kuburan, usungan mayat diletakkan di pinggir lubang kubur. Kemudian mayat diangkat dengan perlahan-lahan sambil dipayungi, terus dimasukkan ke dalam kubur. Semua ikatan bungkusan mayat tadi dilepaskan. Tindakan itu dilakukan karena ada di antara masyarakat beranggapan bahwa apabila mayat tidak dibuka ikatannya maka roh dari mayat itu akan menjadi burong punyot (syaitan berbalut).Setelah mayat dimasukkan ke dalam kubur dan ikatan dari bungkus mayat yang diikat dari kafan tadi dilepas semua maka teungku dengan mengucapkan bissmillah... sambil mengambil tanah satu genggam kemudian menjatuhkan ke dalam kuburan dengan perlahan-lahan sekali. Kemudian baru diikuti oleh orang lain untuk menimbun lubang kuburan itu dengan cara perlahan-lahan pula. Hal itu dilakukan demikian sebagai penghormatan kepada mayat. Selain itu, juga agar tubuh mayat jangan terasa sakit dengan benturan tanah. Setelah kuburan ditimbun dengan baik dan rapi dengan sedikit gundukan tanah, lalu diberi tanda di kepala dan bagian kaki dengan pohon tertentu, biasanya pohon jarak dan pohon pudeng atau yang lainnya, sebagai tanda bahwa di tempat itu sudah ada kuburan atau sebagai tanda jangan bertukar dengan kuburan lain, tanda itu masih bersifat sementara sebelum diganti dengan batu nisan. Selanjutnya, di atas kuburan disiram dengan air campur bunga dan jeruk purut oleh teungku sebanyak tiga kali dari posisi kepala ke kaki. Penyiraman itu dilakukan sebagai isyarat bahwa mayat itu sangat haus dan perlu diberi minum, dan isyarat lain sebagai komando untuk membangunkan roh agar si mati tahu bahwa ia telah mati. Kemudian teungku menyuruh hadirin untuk duduk berdekatan atau berkeliling kuburan, lalu teungku membaca doa talkin. Kemudian teungku membaca talkin, lalu teungku melanjutkan dengan membaca doa selamat dan penutupan atas penguburan mayat dan kepada hadirin diminta untuk menadahkan tangan ke atas sambil menyebut dengan sahutan amiin. Setelah itu mereka pun pulan ke rumah masing-masing.Setelah selesai acara penguburan mayat, keluarga yang ditinggalkan biasanya menyiapkan suatu tempat khusus yang dihiasi dengan belbagai perangkat tidur yang diperuntukkan kepada roh orang yang sudah meninggal. Sebagian masyarakat beranggapan bahwa roh orang yang sudah meninggal itu masih kembali dan mengunjungi rumahnya, sehingga perlu disiapkan tempat seperti itu sebagai perlambang juga bahwa ia telah meninggal.

· Geumunjong
Suatu kebiasaan bahkan sudah menjadi suatu keharusan bagi masyarakat, apabila seseorang meninggal, maka orang lain akan berkunjung ke rumah orang yang meninggal tersebut. Hal itu dilkakukan sebagai rasa kebersamaan dan ikut merasakan apa yang sedang dirasakan oleh orang yang terkena musibah.Dalam kunjungan tersebut, biasanya orang memberi uang, atau beras menurut kemampuan masing-masing. Acara geumunjong itu juga dimanfaatkan sebagai ajang ukhuwah untuk saling mengunjungi. Tuan rumah biasanya hanya memberi air minum berupa teh manis, kopi atau air putih.

· Kenduri
Setelah selesai upacara penguburan mulai dari hari pertama sampai dengan hari keenam mayat dalam kuburan, upacara-upacara yang dapat digolongkan besar tidak diadakan. Dalam waktu-waktu itu acara hanya sekedar dilakukan untuk memberi makan seorang atau beberapa orang pengikut teungku yang melakukan samadiah setelah salat maghrib selama enam hari. Pemberian makan itu dilakukan sebagai ganti memberikan makan kepada orang yang telah meninggal, karena sebelum hari ketujuh dianggap roh orang mati itu masih tetap di rumah, bersama keluarganya. Adakalanya dalam waktu-waktu sebelum hari ketujuh itu diadakan pula samadiah, tergantung permintaan dari keluarga yang meninggal. Pada malam pertama sering dihidangkan dengan ie bu puteh (air nasi putih) semacam dodol yang putih warnanya dibuat dari tepung. Pada malam ketiga dengan kue pampi (kue bugis), malam keempat dengan cingkhui sejenis lontong, dan malam kelima dengan kue putro manou (tepung bentuk bulat). Sebelum kenduri ketujuh tiba, keluarga yang meninggal sudah tampak sibuk menyediakan persiapan-persiapan. Persiapan itu dapat dibagi atas dua macam, yaitu persiapan ringan berupa kue-kue dan persiapan untuk makan. Apabila kenduri tujuh dilakukan secara besar terutama bagi orang yang mampu biasanya ia menyembelih kambing bahkan kerbau pada siang harinya. Apabila pada hari ketujuh itu tidak dilakukan upacara kenduri, masyarakat banyak membincang bahwa seakan-akan keluarga orang yang meninggal tidak menghiraukan orang yang sudah meninggal bahkan dianggap sama seperti hewan yang mati. Pada malam yang ketujuh semua kerabat dan tetangga yang berdekatan datang menghadiri upacara malam ketujuh. Para kerabat biasanya membawa bahan-bahan mentah berupa beras, kelapa, dan sayur-sayuran, gula, uang, dan lainnya. Kerabat biasanya sudah terlebih dahulu datang sebelum malam ketujuh, untuk membantu pelaksanaan upacara. Sedangkan tetangga dan masyarakat lainnya membawa aneka kue bagi perempuan dan gula oleh orang laki-laki. Setelah semua tamu datang, teungku mulai memimpin upacara yang didahului dengan samadiah. Biasanya upacara itu berlangsung dalam waktu yang lama samapai dua atau tiga jam. Semua peserta turut mengikuti pembacaan samadiah. Mula-mula dibaca oleh teungku, kemudian diikuti oleh peserta. Peserta mengikuti upacara itu dengan penuh khidmat sambil mengharapkan agar pembacaan samadiah diterima oleh Allah dan berpahala, juga dapat mengampuni dosa-dosa yang pernah diperbuat selama yang meninggal masih hidup di dunia. Setelah pembacaan samadiah selesai, upacara dilanjutkan dengan acara makan kenduri. Adakalanya makan kenduri itu dilakukan sebelum pembacaan samadiah, hal itu tergantung kepada kesepakatan antara tamu dengan keluarga orang yang meninggal. Kalau acara makan kenduri diadakan sebelum pembacaan samadiah, maka setelah pembacaan samadiah disajikan dengan acara minum dan makan kue-kue. Selesai acara pembacaan samadiah, acara terus dilangsungkan dengan pembacaan Alquran. Peserta terdiri atas orang-orang yang sanggup membaca Alquran dengan lafal dan irama yang baik. Acara dipimpin oleh teungku, setelah teungku membaca pertama, kemudian diikuti oleh peserta lainnya yang duduk di sebelah kanan teungku, dan terus bergiliran menurut tempat duduk. Posisi duduk biasanya melingkar maka acara pembacaan pun terus berlingkar hingga selesai acara. Adakalanya, pembacaan ayat Alquran terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan samadiah. Apabila acara pembacaan Alquran sudah selesai, maka teungku menutup acara dengan pembacaan doa. Para peserta lainnya menadah tangan ke atas sambil menyebutkan amiiin. Ketika pembacaan doa hampir selesai, salah seorang anggota keluarga bangun memberikan sedekah, biasanya dimasukkan ke dalam kantong baju peserta. Banyaknya jumlah uang yang disedekahkan itu tergantung pada kemampuan keluarga yang meninggal. Kenduri dan sedekah yang diberikan kepada tamu itu mempunyai tujuan agar mendapat pahala dan sebagai pemberian kepada roh yang meninggal. Karena ada di antara masyarakat yang beranggapan bahwa roh orang yang meninggal itu sebelum 40 hari masih selalu mengunjungi rumahnya. Oleh sebab itu kepada roh itu perlu diberi makan. Jadi semua pemberian kepada tamu sebagai ganti memberikan kepada orang yang sudah meninggal.

· Pula bate
Pada hagi harinya, anggota keluarga bersama seorang teungku mengunjungi kuburan dengan maksud melakukan upacara pula batee (menanam batu nisan) dan menabur batu putih di atas kuburan. Setelah itu, dilakukan upacara siraman, yaitu menyiram di atas kuburan sebanyak tiga kali dengan air ramuan wewangian yang sudah disiapkan. Upacara menanam batu nisan dan siraman dipimpin oleh teungku, setelah teungku menanam batu nisan, lalu membaca doa, bagi orang yang mampu akan memberi sedekah seadanya. Selain itu, juga sudah disiapkan nasi ketan untuk dibagikan di kuburan termasuk kepada teungku.Setelah selesai upacara kenduri ketujuh, upacara baru dilakukan lagi pada hari keempatbelas yang disebut dengan kenduri duaseun tujuh, kenduri keempat puluh dan seterusnya, tergantung kemampuan keluarga yang ditinggalkan. Maksud upacara itu sama seperti upacara-upacara sebelumnya, yaitu untuk menghormati roh orang yang sudah meninggal karena dianggap roh orang yang sudah meninggal masih mengunjungi rumah bersama keluarganya.

Jumat, 21 Februari 2014

Daftar masakan, jenis bahan dan makanan Jepang

  • Aburage
  • (油揚げ ), lembaran tahu goreng untuk bahan campuran sup

  • Adzuki 
  • あずき atau 小豆   , jenis masakan dari kacang merah yang biasanya terasa manis

  • Arame 
  • 荒布, sejenis rumput laut

  • Bento 
  • 弁当, bungkusan makan siang di dalam kotak

  • Daikon 
  • 大根, lobak (white radish) rasanya seperti bengkoang tapi tidak manis (untuk sayuran)

  • Dashi 
  • 出汁, cairan (kaldu) untuk sup, dijual di pasaran dalam bentuk bubuk.

  • Donburi
  • 丼, nasi dan lauk ala Jepang 

  • Edamame 
  • 枝豆, kacang kedelai yang disajikan masih dalam bentuk berkulit

  • Enokitake, jamur enoki 
  • 榎茸, jamur

  • Fugu 
  • 河豚 atau フグ, jenis ikan laut

  • Ginkgo 
  • 銀杏 atau ぎんなん, Ginkgo biloba 銀杏 ginkyō, jenis obat-obatan

  • Gyokuro 
  • 玉露, jenis teh hijau yang termahal

  • Gyoza 
  • ギョーザ atau 餃子, (bahasa Tionghoa: jiaozi (jiǎozi); campuran sayuran dan daging cincang yang dibungkus seperti pangsit ("wonton") dan dikukus/ dimasukkan oven.

  • Gyudon 
  • nasi dengan irisan daging sapi rebus

  • Hijiki 
  • 鹿尾菜, jenis rumput laut

  • Kamaboko
  • 蒲鉾, makanan dari ikan yang sudah dihaluskan dan diproses

  • Kaki 
  • 柿, Buah kesemek (jenis buah-buahan dengan rasa seperti sawo)

  • Katsuobushi
  • 鰹節, daging ikan yang diserut, biasanya ditabur di atas makanan sebagai penyedap.

  • Katsuo 
  • 鰹, カツオ, sejenis ikan tuna, bahan dasar untuk Katsuobushi

  • Kombu 
  • 昆布, rumput laut kering

  • Matcha 
  • 抹茶, bubuk teh Jepang

  • Matsutake 
  • 松茸, Jenis jamur yang harum baunya

  • Mirin 
  • 味醂, bumbu dapur berupa minuman beralkohol berwarna kuning, berasa manis, mengandung gula sebanyak 40%-50% dan alkohol sekitar 14%

  • Miso atau Sup miso 
  • 味噌, jenis sup yang dibuat dari pasta miso

  • Mochi 
  • 餅, kue dari tepung beras

  • Natto
  • kacang kedelai yang difementasikan, baunya tidak enak tapi bagus untuk kesehatan

  • Nikujaga
  • 肉じゃが, masakan dari daging rebus dan kentang yang sedikit agak manis

  • Nori 
  • 海苔, rumput laut yang sudah diproses dan mirip seperti kertas

  • Oden
  • おでん atau 御田, masakan Jepang berupa berbagai bahan yang direbus di dalam kuah (dashi) yang antara lain dibuat dari katsuobushi, kombu, dan kecap asin. Bahan-bahan yg dimasukkan bervariasi spt: lobak, tahu, telur rebus, bakso, dll. ini adalah makanan khas untuk musim dingin

  • Okonomiyaki
  • お好み焼き, campuran tepung dan daging yang didadar di atas panci (teppan), karena arti お好み= okonomi = suka-suka; bahan yang dimasukan bervariasi sesuai kesukaan.

  • Onigiri
  • (おにぎり, 御握り ), nasi yang dibungkus dengan nori

  • Osechi
  • 御節料理, masakan istimewa untuk merayakan tahun baru

  • Ramen 
  • ラーメン, mi ala Jepang

  • Sake 
  • 酒  minuman khas yang mengandung alkohol (memabukkan) yang terbuat dari beras

  • Sashimi 
  • 刺身, irisan ikan laut mentah yang sangat segar dan dimakan cukup dengan shōyu, wasabi dan acar jahe (untuk menetralisir lidah)

  • Shabu-shabu 
  • しゃぶしゃぶ, sayuran dan irisan daging sapi mentah yang direbus.

  • Shiitake : jenis jamur

  • Soba 
  • 蕎麦, mi gandum berwarna agak coklat

  • Shōyu
  • 醤油 kecap Jepang (sedikit lebih cair)

  • Sukiyaki 
  • すき焼き atau スキヤキ, masakan yang direbus dan terdiri dari daging sapi, tahu, bawang, bok-choy (dari Tiongkok), jamur, dll

  • Sushi 
  • 鮨 atau 鮓 atau 寿司, potongan nasi yang dilapisi dengan ikan mentah dan sayuran bersama saus

  • Takoyaki
  • たこ焼, たこ焼き, atau 章魚焼き, campuran tepung dan gurita (octopus) berbentuk bulat yang dibakar/panggang

  • Tamari 
  • たまり, cairan dari hasil perasan kacang

  • Tempura 
  • 天麩羅, sayuran atau ikan yang digoreng dengan tepung

  • Teppanyaki 
  • 鉄板焼き, jenis masakan yang dipanggang di atas panci (teppan)

  • Teriyaki 
  • 照焼き atau テリヤキ, cara memasak ikan atau daging yang dipanggang dan dimakan dengan saus manis

  • Tofu 
  • 豆腐 dengarkan (bantuan·info) tahu yang berasal dari Tiongkok

  • Udon 
  • 饂飩, mi Jepang (agak tebal irisannya)

  • Umeboshi 
  • 梅干, sejenis asinan buah

  • Wakame 
  • 若布, rumput laut sebagai campuran sup miso

  • Wasabi 
  • 山葵 atau わさび, pasta yang merupakan sambal hijau pedas (menyengat di hidung), berfungsi untuk menghilangkan bakteri pada makanan yang masih mentah.

  • Yakisoba
  • 焼きそば, mi goreng Jepang

  • Yakitori 
  • 焼き鳥, sate ayam (ayam bakar) ala Jepang